Pernahkah Anda dalam suatu seminar mendengarkan banyak kata “umm ” keluar dari mulut sang narasumber? Atau barangkali kata “gitu loh” sering keluar dari mulut Anda ketika berbicara di depan banyak orang? Atau kata “ oke” secara berulang keluar dari mulut dosen Anda saat mengajar di ruang kuliah?

Jika Anda pernah mendengar kata-kata tersebut, artinya Anda sedang mendengar sebuah filler. Apakah filler itu? Apa filler itu bermanfaat dalam penampilan Public Speaking Anda?

Filler adalah suara yang pesannya tidak bertujuan. Filler disebut pesan tidak bertujuan karena ketika muncul sebuah filler tetap tidak akan memberikan pesan kepada audiens Anda. Walapun tidak dikehendaki demikian.

Selain filler voice, ada juga filler yang lain yakni  filler word. Contohnya seperti kata “apa” atau “oke”. Dan filler pharase contohnya adalah frase “gitu loh”. Filler-filler ini mungkin nampak natural dalam percakapan sehari-hari Anda. Namun filler ini akan sangat mengganggu apabila Anda bunyikan dalam sebuah pidato atau presentasi profesional. Filler dalam konteks sebuah presentasi profesional bisa melemahkan kharisma Anda sebagai seorang pembicara. Mengapa demikian?

Pesan yang muncul ketika Anda membunyikan filler membuat Anda terkesan tidak profesional. Pertama, audiens akan mengira Anda tidak menguasai materi. Atau bisa juga Anda ditafsirkan tidak percaya diri oleh audiens. Selain itu filler juga memunculkan kesan bahwa Anda kurang minat terhadap topik yang Anda bawakan. Bahkan bisa juga Anda dianggap kurang yakin terhadap kata-kata Anda sendiri.

Sebuah filler tidak memberi manfaat pada presentasi Anda. Maka alangkah baiknya Jika Anda hilangkan filler itu. Tanpa adanya filler, Anda bisa memberikan kesan positif yang bisa memperkuat komunikasi Anda di depan publik. Dengan demikian, Anda memenuhi salah satu indikator Publik Speaker yang efektif yakni tiadanya filler dalam setiap komunikasi Anda di depan publik.

HeartSpeaks Indonesia menerapkan zero tolerance policy terhadap hal filler, khususnya pada kelas Smart Public Speaking (SPS). Karena itu di dalam SPS Training, setiap peserta pastilah mendapat panduan praktis untuk mengatasi dan menghilangkan filler tersebut. Efek positifnya: wibawa dan kharisma peserta sebagai seorang pembicara menjadi jauh meningkat. Akibatnya, isi pesan pun tersampaikan semakin efektif. Sementara itu efek negatifnya: mereka menjadi sensitif terhadap filler sang narasumber saat mengikuti sebuah seminar atau training lain dan saat nonton video Public Speaking di Youtube

Ada 7 langkah yang dapat Anda lakukan untuk menghilangkan filler dari mulut Anda saat berbicara di depan umum. Jika Anda lakukan langkah ini, Anda akan terkagum karena semua perkataan Anda sungguh “bersih”.

Pertama, bangun rasa percaya diri dan nyaman saat tampil di hadapan banyak orang dan ditatap oleh audiens.

Kedua, pastikan informasi yang Anda sampaikan hanya yang sudah Anda pelajari dan kuasai. Jangan pernah berbicara di depan umum tentang hal yang Anda belum pahami.

Ketiga, tulis skrip kalimat Anda minimal di bagian Opening, Closing dan Story Telling. Setelah itu bacalah dengan sangat cepat dan berulang sampai menjadi lancar. Tiga bagian itu perlu dilatih karena merupakan bagian sangat penting untuk Anda kuasai jikalau Anda ingin sukses dalam Public Speaking.

Keempat, latihan bicara tanpa melihat teks dengan tempo yang sangat cepat. Setelah itu dengan sangat lambat, kemudian dengan tempo yang mengikuti dinamika isi pesan.

Kelima, latihan di depan beberapa teman dan minta mereka memberika interupsi dengan pola tertentu saat terucap filler dari mulut Anda. Pola interupsi yang bisa digunakan misalnya memberi tepukan yang keras pada saat filler Anda muncul.

Keenam, buatlah trigger kata kunci atau kalimat pertama dari

setiap bagian/ sub topik materi yang akan Anda bawakan sehingga transisi menjadi lebih lancar.

Terakhir, nikmati momen PAUSE: seperti saat akan memberi salam, setelah tepuk tangan atau tawa, saat transisi dan saat memikirkan kata selanjutnya.

Share Button
http://publicspeaking.co.id/wp-content/uploads/2017/08/fillerok.jpghttp://publicspeaking.co.id/wp-content/uploads/2017/08/fillerok-150x150.jpgAdminPresentation SkillPernahkah Anda dalam suatu seminar mendengarkan banyak kata “umm ” keluar dari mulut sang narasumber? Atau barangkali kata “gitu loh” sering keluar dari mulut Anda ketika berbicara di depan banyak orang? Atau kata “ oke” secara berulang keluar dari mulut dosen Anda saat mengajar di ruang kuliah? Jika Anda pernah...website pembelajar public speaking indonesia