Harus Punya Ciri Khas Sendiri

ciri khas

Jadi MC atau penyiar emang jadi kegiatan yang sekarang ini kayaknya jadi trend deh. Selain jadi foto model atau peragawati, jadi MC atau penyiar juga menjadi kegiatan yang dianggap mengasyikkan dan terbilang gaul!

Tapi banyak juga orang yang kurang ngerti, kenapa sih seseorang itu bisa disukai kalau jadi MC? Kenapa ada MC yang bisa terus menerus disukai sama orang lain dan ada MC yang suka ikut-ikutan gaya orang lain tapi nggak pernah secemerlang seperti MC lain yang sukses?

Jawabannya ternyata… untuk menjadi MC, penyiar, atau apapun yang ada hubungannya sama komunikasi dengan orang banyak, kita butuh tuh yang namanya metode komunikasi tertentu. Jadi nggak bisa asal cuap-cuap aja!

Nah beberapa waktu yang lalu, di Batam sempat hadir tuh Om Farhan yang emang terkenal banget di mana-mana hadir sebagai MC. Nggak hanya sebagai MC, Om Farhan awalnya juga terkenal sebagai seorang penyiar radio dan bahkan sempat juga ikutan bikin perencanaan sebuah tayangan komedi seperti Extravaganza.

Dengan menggelar talkshow tentang public speaking atau cara berbicara dan berkomunikasi untuk berhadapan dengan orang banyak, ternyata banyak peserta dari acara itu yang bisa dapat ilmu baru lho.

Mulai dari tips-tips ringan sampai ilmu yang harus dikuasai sama kita yang pengen sukses jadi MC ataupenyiar pun dibagiin sama Om Farhan. Uniknya, acara ini sampai diikutin berbagai kalangan lho, mulai dari anak muda seperti kita yang pengen banget bisa gape jadi MC, presenter, atau penyiar, bapak dan ibu yang udah bekerja dan pengen sukses waktu presentasi di kantor, kakak-kakak mahasiswa yang pengen sukses caranya menyampaikan materi diskusi saat kuliah, sampai ibu-ibu rumah tangga pun ada.

Dan emang nggak rugi sih buat mereka yang udah datang di acara tersebut. Soalnya hal-hal ringan tapi penting dibagiin sih sama Om Farhan pas acara ini. Mau tahu contohnya seperti apa?

Misalnya nih kalau menurut Om Farhan jika kita ingin sukses sebagai presenter, MC, atau penyiar, kita mesti muncul sebagai diri kita sendiri. Nggak usah deh pakai acara ikut-ikutan gaya orang lain. “Saya empat tahun duet dengan Indy Barends dan hanya selalu bisa di belakangnya karena saya mencoba ngikutin apa yang jadi ciri khasnya Indy,” kata Om Farhan.

Hal lain yang mungkin kita anggap itu biasa di dunia presenter adalah improvisasi. Ternyata kalau menurut Om Farhan, hal seperti itu nggak boleh ada lho! Semua-semuanya tetap harus terencana. Bahkan langkah kaki kita sekalipun di atas panggung.

“Saya dan Indy tuh kalau lagi di atas panggung kelihatannya aja lepas. Padahal kalau di belakang panggung kita harus ngatur siapa begini habis itu apa. Termasuk siapa yang jadi kondektur atau supir,” jelas Om Farhan.

Nah lho, maksudnya apaan tuh kondektur dan supir? Kalau kita duet, sebetulnya harus ada kesepakatan lho siapa yang jadi pemimpin siapa yang ngikutin. Tapi bukan berarti terus yang jadi supir bisa terus mendominasi acara seenaknya. Tetap saja, ada peran dari presenter yang jadi partner untuk ngikutin apa yang jadi kemauan sang partner.

Kembali ke masalah improvisasi, Om Farhan bahkan nggak ngebolehin lho pemain Extravaganza untuk melakukan improvisasi. Semuanya harus seizin dan disepakati sebelum shooting. Heheh… nggak nyangka seperti yang kalau kita lihat di TV ya?! (ika)

 

Kenali 5W + 1H

Nggak hanya wartawan saja ternyata yang membutuhkan penguasaan 5W + 1H. Eit sebentar, mungkin dari kamu ada nih yang belum tahu atau nggak ngeh, 5W + 1H itu apaan ya? Kalau dijabarin, yang dimaksud dalam 5W + 1H itu terdiri dari unsur what, who, why, when, where,  dan how. Tapi jangan dikira maksud dari unsur itu cuman berarti terjemahan katanya saja yang terdiri dari apa, siapa, kenapa, kapan, di mana, dan bagaimana lho!

Misalnya nih sewaktu kita menjadi presenter, kita mesti ngerti banget apa sih konsep dari acara yang mau kita bawain, siapa orang yang ikut dalam acara tersebut, kenapa acara itu dibuat, kapan dan bersamaan dengan momen apa acara itu dibuat, di mana tempatnya, dan bagaimana kita bisa membawakan acara tersebut dengan baik.

Nah dari unsur-unsur tersebut, Om Farhan kasih kita contoh nih misalnya kalau kita membawakan acara yang tempat di mall, tentunya kita nggak bisa membawakan acara seperti kalau ada di dalam ruangan.

Dalam mall, kita perlu mengeluarkan suara dengan irama yang lebih panjang-panjang dan tentu saja keras! Udah gitu karena penonton acara kita nggak hanya orang di depan, samping, atau belakang kita melainkan juga di atas kita, jadi kita juga harus menyebarkan perhatian ke semua tempat tersebut.

Sesekali, langkahkan kaki ke samping kanan atau kiri, nggak melulu menghadap ke depan terus akan tetapi sesekali juga perlu menghadap ke belakang dan ke atas lho! Wah kalau begitu badannya muter terus dong?

“Ya nggak dong,” jawab Om Farhan waktu ada peserta pelatihan yang tanya seperti itu. Kemudian Om Farhan pun mencontohkan dan ternyata sambil bicara yang dengan sesekali mengarahkan badan ke posisi-posisi tertentu, kita tetap bisa kok bergerak dan mengarahkan perhatian ke segala penjuru arah.

Sedangkan untuk unsur siapa, kita perlu juga tahu nih siapa yang jadi sponsor dari acara tersebut dan yang terpenting siapa yang menyelenggarakannya. Untuk hal yang satu ini, ternyata bahkan seorang Om Farhan pun pernah lho salah sebut penyelenggara acara.

Jadi ceritanya begini nih, pernah selama tiga hari Om Farhan ngebawain acara sebuah merek ponsel tertentu. Nah besoknya, Om Farhan ngebawain acara sebuah merek ponsel lain nih.  Parahnya pas acara yang waktu itu dibawain sama merek ponsel lain itu, Om Farhan salah nyebutin merek ponsel di acaranya hari itu. Bisa ditebak deh gimana kacaunya?! Sampai-sampai kata Om Farhan, dia nggak berani minta bayaran dari jobnya itu deh!

Dan jika suatu ketika kamu juga melakukan hal seperti itu, pinta Om Farhan, minta maaflah. Nggak ada cara lain yang bisa dilakukan selain kita hanya bisa melakukan minta maaf atas kesalahan yang udah kita buat.(ika)

 

Ini dia 5W + 1H ala Om Farhan yang kudu kamu pegang!

What: Acara apa? Apa isinya? Apa konsepnya? Apa formatnya? Apa messagesnya? Apa yang diinginkan dari sang presenter? Apa impact dan impresi yang diharapkan?

Who: Siapa yang akan menonton? Untuk siapa acara ini? Siapa yang akan tampil? Siapa yang membuatnya? Siapa yang membiayainya? Siapa orang-orang yang terlibat di dalam program ini? Siapa yang menjadi idea initiator? Dan tentu saja, siapa saya?

Why: Apa latar belakang acara ini dibuat? Kenapa perlu dibuat? Kenapa harus dalam format tertentu, waktu tertentu, dan di tempat terterntu? Kenapa yang tampil adalah pihak tertentu, dengan bentuk tertentu? Dan tentu saja, kenapa harus saya presenternya?

When: Kapan? Jam? Hari? Tanggal? Bulan? Tahun? Musim? Momentum? Situasi dan kondisi yang menyangkut waktu?

Where: Di mana? Outdoor? Indoor? Hotel Ballroom? Mall? Studio? Kondisi geografisnya? Kota atau desa mana? Negara mana? Stasiun TV mana?

How: Tidak memiliki cacat organ wicara, menguasai bahasa verbal dan bahasa tubuh dengan baik, ekspresi, artikulasi, intonasi, dan visi.(ika)

 

Pegang Mikrofon dengan Satu Tangan

pegang microphoneHal yang kelihatannya sepele tapi penting juga dibagikan sama Om Farhan waktu acara talkshownya kemarin. Misalnya nih tentang cara memegang mic waktu kita jadi MC. Tuh, kelihatannya sepele banget ya? Masa iya masalah memegang mic saja pakai dibahas?!

Tapi ternyata kalau menurut Om Farhan, cara memegang mic ini bikin orang yang menonton kita jadi enak dan merasa dihormati lho. Jadi nggak bisa sembarangan. So, kayak apa sih memegang mic yang benar?

 

 

–          Pegang mic dengan satu tangan dan tangan yang lain menyapa audien. Jangan sampai pegang mic pakai dua tangan. Kesannya kita jadi kelihatan nggak pede dan pasif gitu deh.

–          Kalau jadi MC-nya berduet dengan orang lain, pegang mic di sisi yang berseberangan dengan partner kita. Misalnya kalau partner kita di samping kanan, ya kita pegang mic di tangan kiri.

–          Jika kita ingin berjalan berganti posisi di sebelah lain dari partner kita, ya kita harus pintar-pintar memindah mic yang kita pegang itu pas saat kita berada di belakang partner kita. Nggak etis kalau kita memindah mic saat kita udah berada di sebelah partner kita atau saat kita udah ada di depan audien.

–          Nah, kalau kita dapat mic yang pakai kabel, aturannya tetap sama. Biarkan satu tangan memegang mic dan tangan yang lain bisa bebas bergerak bahkan untuk mengatur posisi kabel saat tubuh kita bergerak.

–          Nggak hanya urusan memegang mic. Urusan ngetes mic apakah sudah berfungsi atau belum juga ada aturannya lho. Ada baiknya, tes mic dengan suara bicara kita saja. Bukan dengan diketuk-ketuk atau di tes suaranya dengan ditempelin di bibir. Kalau yang terakhir itu kata Om Farhan sih, menjijikkan banget lho! Hehehe… (ika)

 

Gerakan Tubuh Harus Sadar

Biar kita nggak berimprovisasi, sebetulnya kita harus benar-benar matang merencanakan apa saja yang mau kita bicarakan dan bagaimana nantinya tubuh akan bergerak saat berada di depan audien. Kalau menurut Om Farhan, kita perlu juga nih memperhatikan bagaimana sih tubuh kita kalau berada di depan para audien…

–          Jangan membelakangi audien.

–          Saat di depan audien, hindari sikap tubuh dengan kedua tangan mendekap di depan dada atau perut.

–          Begitu juga halnya dengan memasukkan kedua tangan atau bahkan satu tangan di ke dalam saku celana. Kesannya kita kurang merespon auden deh kalau seperti itu.

–          Sapulah pandangan ke segala penjuru audien. Kalau bisa tepat ke bola mata masing-masing audien dengan gerakan menyebar. Nggak papa kalau cuman sepersekian detik saja yang itu sebetulnya bagi audien sangat berarti banget lho! (ika)

 

Latih Muka Macan sampai Tikus

muka macan-tikusPengen jadi presenter, MC, atau penyiar? Ada beberapa latihan khusus nih yang perlu kamu lakukan sendiri di rumah. Kali ini, Om Farhan juga ngaih tips kok latihan-latihan seperti apa sih yang perlu kita lakukan kalau di rumah?

Coba rekam suara kita sendiri dalam sebuah tape recorder. Terus, baca satu alinea tulisan yang ada di koran. Habis gitu dengarkan lagi deh hasil rekaman suara kamu sendiri. Dari situ kamu akan tahu, gaya bicara dan suara kamu itu udah sebagus apa sih?

Nggak hanya itu. Coba deh untuk latihan membaca berita dengan suara berbisik selama paling nggak lima menit setiap pagi. Ini untuk membiasakan organ wicara kita bekerja maksimal. Jadi nggak usah kaget lagi deh kalau sampai kita diminta untuk jadi presenter berjam-jam lamanya.

Senam wajah juga penting dilakukan lho. Untuk 10 detik pertama, lakukan senam wajah seperti muka macan. Heheh, tentunya kamu udah bisa tahu dong yang dimaksud. Jadi gerakkan mulut kamu seperti gerakan macan kalau lagi mengaum lebar.

Senam wajah lain yang perlu dilakukan adalah wajah tikus. Alias, kerucutkan bibir kamu seperti mulut tikus selama beberapa detik. Segala macam senam wajah ini fungsinya agar kita bisa tampil dengan senyum yang tulus.

Konon, orang bisa dinilai senyumnya tulus atau nggak dilihat dari kerut yang ada di sudut mata apakah ada atau nggak. Coba deh kita ngaca sambil senyum terus cuman menggerakkan bibir saja sedangkan mata kita tetap. Pasti kelihatan aneh!

Lakukan juga senam nafas perut untuk melatih kekuatan kita saat banyak berbicara. Caranya, tarik nafas lalu simpan di dalam perut, terus gerak-gerakkan perut kita mengembung dan mengempis. Kalau udah beberapa saat melakukan itu, baru buanglah nafas ke luar.

 

Dicopy dari blognya Ika.

 

*******

 

 

 

Share Button