tumblr_krrtg0jxHs1qzsw2jo1_500

Modeling adalah teknik meniru atau memodel orang lain yakni tokoh yang dikagumi/diidolakan. Setiap orang yang sukses –idola katakanlah– pasti memiliki sebuah pola tindakan (pattern) yang bisa ditiru atau diduplikasi oleh orang lain.

Seorang petenis unggulan misalnya, ia memiliki pola tindakan (pattern) baku yang dapat dipelajari oleh orang lain. Tindakan terpola itu misalnya: dimulai latihan-latihan rutin sebelum bertanding, persiapan di lapangan, cara serve yang bagus, cara menangkis bola lawan, hingga cara menyemes yang mematikan. Tahapan seperti itu dapat dikodifikasikan (ditulis) secara jelas sehingga dapat dipelajari oleh orang lain.

Demikian halnya dengan seorang tokoh bisnis terkenal. Ia memiliki pola tindakan yang dapat ditiru. Misalnya, dari bagaimana ia mengawali bisnisnya, kiat mengembangkan usahanya, dan bagamana sikapnya pada saat ia gagal dan bangkit lagi, hingga kiat-kiat pemasarannya. Semua aktifitas itu dapat dipolakan dan dapat ditiru. Prinsip dasar NLP-nya adalah: “Kalau orang lain bisa, saya pun bisa”. Mempelajari cara yang sudah terbukti efektif merupakan salah satu cara belajar efektif pula. Belajar atau memodel orang yang sudah terbukti sukses, maka kemungkinan suksesnya juga besar.

Pola tindakan yang sudah dikodifikasikan (ditulis urutannnya) merupakan sebuah peta atau jalan yang sudah terbukti dapat mengantarkan sang juara/sang idola menuju kesuksesan. Peta itu tentunya, dapat digunakan oleh siapa saja yang ingin mengikuti jejak sang idola. Metaforanya, seorang pendaki gunung cenderung mencari jalan setapak yang sudah dirintis pendahunya kalau tidak ingin sesat jurang.

Anggap saja tindakan terpola itu adalah sebuah teori yang sudah teruji. Minimal oleh dirinya. Teori tersebut tinggal digunakan oleh siapa saja yang ingin menjadi juara seperti sang idolanya.

 

Disosiasi dan Asosiasi

Hal yang sangat terkait dengan memodel pola tindakan orang lain adalah disosiasi dan asosiasi. Disosiasi adalah melihat atau membayangkan sebuah objek atau kejadian tanpa ikut merasakan. Pokoknya mati rasa. Indera yang digunakan hanya sebatas mata dan pikiran kognitif saja. Ada jarak tertentu dari sebuah objek atau kejadian dengan diri Anda, sehingga Anda dapat melihat secara jelas dan detail tetapi tanpa melibatkan emosi Anda. Contoh lihatlah sebuah adegan sinetron secara jelas alur ceritanya tapi lihatlah apa adanya tanpa melibatkan emosi.

Apabila Anda memiliki pengalaman kehujanan misalnya, lihatlah atau bayangkanlah kejadian itu tanpa harus ikut terlibat emosinya. Jadi meskipun Anda punya pengalaman –dalam kejadian itu—tubuh sampai menggigil kedinginan, tetap tahan jangan sampai emosi Anda terlibat. Bahkan walaupun Anda kedinginan, menggigil, sampai menangis, tahan jangan sampai terhanyut. Lihatlah apa adanya tanpa kertlibatan emosi.

Sebaliknya, asosiasi adalah melihat atau membayangkan sebuah kejadian sekaligus ikut merasakan. Jika pada disosiasi Anda perlu mati rasa, sebaliknya dalam asosiasi harus mengaktifkan emosi/rasa seolah sebuah kejadian benar-benar hadir kembali. Semisal Anda sedang membayangkan pengalaman kehujanan tadi, Anda harus benar-benar melibatkan emosinnya. Apabila pengalaman itu adalah menggigil kedinginan Anda harus secara ikhlas kembali merasakannya.

Dua konsep ini, disosiasi dan asosiasi, merupakan salah satu konsep penting dalam dunia NLP khususnya modeling. Disosiasi merupakan piranti untuk melihat sebuah objek/kejadian tanpa melibatkan emosi agar objek dapat dilihat secara jelas dan objektif. Artinya, apabila Anda melihat figur seorang tokoh/idola –katakanlah seorang petenis unggulan—Anda akan melihatnya secara jelas tidak saja fisiknya tetapi juga pola tindakkannya. Dengan disosiasi pula Anda mendapatkan “peta pikiran” sang idola. Peta itu, paling tidak, telah membatu Anda untuk menjadi sekualitas dia. Demikian pula dalam hal bisnis, ketika Anda melihat dengan jelas pola pikiran dan pola perilakunya, ini akan membantu Anda untuk sukses bisnis.

Namun perlu dicatat bahwa tahap disosiasi seperti tersebut diatas, adalah baru tahap diterimanya pola tindakan orang lain (idola) pada level permukaan saja atau pikiran sadar (kognitif saja). Ingat bahwa pada level ini baru 12 persen pengaruhnya terhadap perilaku Anda. Anda baru tahu, tetapi belum tentu Anda mau melaksanankan tindakan seperti idola Anda.

Agar pola tindakan atau peta pikiran sang idola benar-benar menginternal/merasuk ke dalam diri (baca installing program baru), maka Anda harus menjalani tahap asosiasi. Tahap ini adalah tahap Anda merasakan, tahap memasukan pengalaman orang lain ke dalam pikiran bawah sadar melalui asosiasi. Pada tahap ini pula Anda mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (idola). Rasakan kesuksesannya, yakni seandainya Anda sesukses dia.

Tahap asosiasi adalah tahap “membuka” pintu pikiran bawah sadar untuk menerima pengalaman atau pola tindakan orang lain (idola). Begitu pikiran bawah sadar Anda merespon, merenima dan menghayatinya, disitulah proses installing program pikiran terjadi.

 

TEKNIK MODELING

Paling tidak ada dua teknik modeling. Kedua teknik itu pada dasarnya bertujuan untuk mendidik ulang pikiran bawah sadar agar mau menerima pola tindakan atau “peta pikiran” sang idola.

1. Symbolizing

Teknik ini adalah teknik membuat simbol berupa gambar/foto atau patung dari sang idola. Bisa juga diambil dari gambar tokoh wayang yang Anda sukai. Kemudian, tempatkan gambar/foto yang sudah dibingkai kemudian ditempel didinding yang kamar atau tempat lain di rumah. Sejauh mana efek dari teknik ini?

Pertama, sebagai pemicu pikiran sadar. Begitu melihat atau memandangi sang tokoh (idola) pikiran Anda segera teringat dengan karakter tokoh tersebut. Setidaknya teknik ini akan mengingatkan terus kepada Anda untuk bisa menjadi seperti sang tokoh.

Kedua, sebagai pemicu pikiran bawah sadar. Saran saya, agar fungsi gambar/foto tidak hanya sebagai hisan dinding saja, maka tataplah gambar itu dengan segenap imajinasi dibalik gambar/foto itu. Maksudnya, gambar/foto itu hanya sekedar symbol dari jati diri sang tokoh. Agar tokoh tersebut bermanfaat untuk memicu pikiran bawah sadar Anda, dengan harapan dapat memodel tokoh itu, maka tatap dan pandanglah dengan segenap imajinasi Anda terhadap tokoh itu.

Pikiran bawah sadar Anda tidak akan dapat terudakasi atau terbuka pintunya bila tidak dengan membayangkan atau mengasosiasikannya. Caranya, tataplah dengan kesadaran (kognitif, pikiran sadar) untuk mendapatkan “peta pikiran” sang tokoh. Selanjutnya Anda mengingat, merasakan, dan imajinasikan tentang segenap ketokohannya. Rasakan seolah-olah Anda seperti dia. Baru, setelah itu, pikiran bawah sadar teredukasi. Sebab, pikiran bawah sadar tidak dapat membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Maka jangan heran kalau dirumah orang-orang sukses selalu menyimpan gambar/foto tokoh/wayang hingga gambar abstrak yang mahal. Bukan gambarnya secara fisik yang penting, tetapi makna dibalik tokoh itulah yang justru sangat penting.

 

2. Imaginer Modeling

Cara ini hampir sama dengan cara pertama. Hanya bedanya, kalau yang pertama menggunakan gambar/foto sang tokoh, sementara cara yang kedua menggunakan kehadiran sang tokoh secara imajiner. Saya katakan imajiner karena dalam tekniknya nanti Anda harung “menghadirkan” secara imajiner sang tokoh yang akan Anda model. Caranya adalah sebagai berikut.

Pertama, duduklah dengan rileks di tempat yang menurut Anda aman dan nyaman serta bebas gangguan. Rilekslah serileks Anda duduk di pinggir pantai. Duduk rileks menjadi sesi penting dalam dunia NLP dan hypnosis. Rileksasi merupakan cara ampuh untuk mengendorkan syaraf dan mengantarkan gelombang pikiran ke kondisi alpha yang kreatif dan sugestibel.

Kedua, tutuplah mata Anda dan bayangkan seorang tokoh yang Anda idolakan. Apabila Anda hendak menjadi seroang entrepreneur sukses, carilah tokoh bisnis yang Anda sangat kagumi. Setelah Anda mendapatkannya, bayangkanlah figur tokoh tersebut dengan segenap atribut, kharisma, dan detail karakter lainnya. Fokuskan pikiran Anda ke tokoh tersebut, lihatlah betapa menyenangkannya tokoh itu.

Ketiga, perhatikan dan rasakan auranya bahwa ia muncul dengan jelas di depan Anda. Ia datang menyapa Anda dengan senyuman khasnya dan sangat ramah. Ia datang siap membantu Anda untuk berlatih bisnis. Bahkan katanya, Anda adalah orang yang sangat potensial dan bahkan terpilih untuk mengikuti jejak langkahnya. Ia adalah tokoh yang baik hati, terpercaya yang siap membimbing Anda.

Keempat, terbanglah (floating) secara imajiner, yakni Anda masih duduk rileks di tempat duduk dan mata masih tertutup namun Anda seolah-olah keluar dari tubuh Anda yang sedang duduk. Dengan demikian, Anda dapat melihat diri Anda yang sedang duduk (disosiasi) dan Anda juga dapat melihat dengan jelas tokoh Anda.

Kelima, lakukan percakapan dengan sang tokoh. Mintalah nasehat-nasehatnya agar bagaimana agar Anda sesukses dia. Apa pun nasehat positifnya terima saja.

Keenam, ijinkan sang tokoh itu masuk ke dalam tubuh Anda yang sedang duduk rileks di kursi. Ia masuk atas ijin Anda, ia masuk karena Andalah salah satu orang terpilih untuk mengikuti jejaknya. Setelah ia masuk, Anda segera kembali masuk ke tubuh Anda yang sudah “kerasukan” sang tokoh tadi.

Ketujuh, secara perlahan buka mata Anda. Anda kini dalam kesadaran penuh bersama nilai-nilai baru, semangat baru, dan peta pikiran baru dari sang idola. Kalau Anda merasakan itu semua, ucapkan terima kasih kepada batin Anda (pikiran bawah sadar). Genggam kuat, teguhkan hati dan berdoalah kepada Allah agar Anda diberi kekuatan untuk melaksanakan peta pikirana sang tokoh berikut semua nilai-nilainya. Semoga.

Pusdiklat Pegawai Depdiknas, Sawangan Depok

Share Button
http://publicspeaking.co.id/wp-content/uploads/2014/07/tumblr_krrtg0jxHs1qzsw2jo1_500.pnghttp://publicspeaking.co.id/wp-content/uploads/2014/07/tumblr_krrtg0jxHs1qzsw2jo1_500-300x300.pngadminGeneral Communicationcircle of excellence,hypnosis,modeling,nlp,percaya diri,public speaking,self confidenceModeling adalah teknik meniru atau memodel orang lain yakni tokoh yang dikagumi/diidolakan. Setiap orang yang sukses –idola katakanlah– pasti memiliki sebuah pola tindakan (pattern) yang bisa ditiru atau diduplikasi oleh orang lain. Seorang petenis unggulan misalnya, ia memiliki pola tindakan (pattern) baku yang dapat dipelajari oleh orang lain. Tindakan terpola...website pembelajar public speaking indonesia