Kita semua mengalami “stage fright”; dimana tangan menjadi berkeringat, lutut lemas dan lengan terasa sangat berat. Memang ada sebagian orang yang memiliki talenta untuk berbicara di depan orang banyak, namun lebih banyak orang yang berhasil menjadi public speaker yang fasih karena latihan, latihan dan latihan.

images

Bagi yang masih berkeringat dingin dan merasakan lutut terasa lemas setiap kali giliran untuk tampil sudah dekat, apa yang dilakukan pembicara-pembicara fasih berikut ini dapat membantu:
1. Tidak Mempercepat Waktu
Saat kita panik, semua mekanisme dalam tubuh kita jadi bergerak lebih cepat. Detak jantung, kepala kita diserang ribuan pemikiran dan anda mulai mengerjakan apapun di depan anda dengan cepat. Artinya, berbicara pun jadi lebih cepat tanpa disadari. Dengan memahami proses ini, para pembicara professional dengan sengaja memperlambat kecepatan bicara mereka untuk menghindari gagap, jadi terbata-bata dan hilangnya alur yang sudah dilatih.

2. Tidak Berpikir Negatif
Kebanyakan berpikir sekarang ini telah menjadi masalah yang biasa dialami, hasilnya seringnya benak kita jadi berputar-putar tidak menentu dan sesudah itu panic melanda. Padahal kita bisa memikirkan bahwa presentasi ini seperti permainan olahraga yang anda sukai dan anda bermain melawan teman baik anda. Mental untuk menang dengan mudah akan muncul karena tidak ada tekanan yang anda rasakan saat mencoba mengalahkan teman baik anda. Memiliki perilaku “I can do this” sangat membantu dan dapat menyalurkan energy positif anda mengalahkan panik.

3. Tidak Berbicara Seperti Sales Person
Sales Person memiliki ciri khas berbicara yang sangat berhasil dalam banyak situasi. Berdasarkan pilihan gaya yang nyaman untuk dimiliki, anda dapat menjadi menghibur, menarik untuk didengarkan, member inspirasi atau memiliki daya tarik tertentu. Sangat penting untuk tidak memberi kesan bahwa anda dapat uang banyak dari orang yang anda ajak bicara.

4. Tidak menghindari kontak mata.
Betul bahwa dengan memandang ruang tak berwajah di kerumuman dapat mengurangi tingkat stress anda, tapi artinya anda telah melakukan body language yang paling buruk menurut Forbes. Saat anda sudah berdiri di depan orang-orang, hal yang paling sopan untuk dilakukan adalah menjalin relasi dengan cara menatap mereka tepat di mata. Bagaimanapun tatapan mata anda adalah bentuk dialogue dengan peserta.

5. Tidak Fokus Pada yang Negatif diantara Peserta
Alasan kenapa banyak Pembicara tidak memandang tepat di mata salah satunya adalah takut menemukan ketidakramahan dan ketidaksejutuan. Padahal kalau kemudian kita menemukanya, kita hanya perlu pindah ke mata yang lain yang setuju dan focus saja pada mereka. Ambil energy positif dari mata-mata yang ramah dan transfer menjadi milik anda. Toh akan selalu ada yang negative karena belum mendengarkan anda, itulah tugas anda, jadikan mereka positif.

6. Tidak Melupakan Aksen Sendiri.
Ciri khas kedaerahan kita sering muncul dalam cara dan logat berbicara. Aksen anda ini bukan sesuatu untuk dikawatirkan saat sudah menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Dimana anda akan berbicara sudah jadi pe-er yang harus dikerjakan agar anda memahami kultur para peserta kan? Pastikan anda menyesuaikan telinga para peserta dengan aksen anda, jadi maksimalkan tahap pembukaan dengan baik. Telinga manusia adalah instrument pendengaran yang baik, hanya memerlukan penyesuaian sedikit dengan aksen baru milik anda.

7. Tidak Lupa Bernafas
Dalam keadaan panik, tubuh kita cenderung menjadi kaku dan tegang. Hala yang sama juga terjadi kalau kita cemas. Tubuh menjadi kaku dan lupa untuk bernafas yang akhirnya membuat semakin cemas. Secara standart memang harus langsung ingat untuk bernafas. Latih pause dengan baik salah satunya untuk mengelola nafas anda. Jangan khawatir, para peserta akan menunggu anda.

8. Tidak Fokus Gerakan yang Diulang-ulang
Hati-hatilah dengan gerakan menghentakkan kaki berulang-ulang, membunyikan buku-buku jari-jari dan gerakan lain yang secara tidak kita sadari muncul. Menurutinya memang menciptakan kenyamanan, tapi peserta akan langsung tahu anda nervous yang dapat merusak kredibilitas anda.

9. Tidak Kehilangan/Berganti Nuansa
Kalau kita sampai kehilangan nuansa presentasi yang sudah dibangun sejak awal, peserta akan sangat menderita. Mereka bisa bingung karena merasa tiba-tiba presentasi akan berubah arah. Latih tone suara anda dengan baik untuk mempertahankan nuansa presentasi, entah dibangun untuk menghibur, mengajak peserta terlibat berpikir atau untuk membangunakan motivasi peserta.

10. Tidak Lupa Meriset Peserta
Anda wajib beradaptasi dengan kultur dan karakter peserta. Oleh karena itu mencari informasi mengenai siapa yang hadir dalam presentasi anda wajib hukumya. Jangan lupa bahwa perilaku orang-orang bisa sangat berbeda berdasarkan background mereka. Pastikan riset ini menjadi tahapan dalam persiapan presentasi anda.

11. Tidak Pernah Lupa untuk Berterimakasih.
Perhatian yang diberikan kepada kita adalah hadiah yang kita terima saat presentasi, karena peserta bisa saja memilih untuk sibuk dengan gadget, memikirkan hal lain atau malah mengajak peserta lain ngobrol. Jadi ucapkan terima kasih untuk kesediaan mereka memusatkan perhatian untuk anda. Terlebih lagi, orang akan cenderung mengingat dan memilih berelasi dengan orang yang sopan.

Ditulis oleh : Aleksandar Ilic

Share Button
TrainerHeartSpeaks IndonesiaKita semua mengalami “stage fright”; dimana tangan menjadi berkeringat, lutut lemas dan lengan terasa sangat berat. Memang ada sebagian orang yang memiliki talenta untuk berbicara di depan orang banyak, namun lebih banyak orang yang berhasil menjadi public speaker yang fasih karena latihan, latihan dan latihan. Bagi yang masih berkeringat...website pembelajar public speaking indonesia