Seorang anak SMA merasa tidak nyaman dengan postur tubuhnya yang tinggi menonjol di antara teman-temannya. Dia merasa lain, berbeda dengan seisi kelas. Hal itu mendatangkan rasa rendah diri. Karena perasaan itu, dia cenderung membungkuk.

Anak yang lain cenderung diam. Di kelas, dia tidak mau menjawab bila guru bertanya meskipun dia tahu jawabannya. Dia juga tidak mau angkat tangan bila guru membutuhkan volunter untuk melakukan sesuatu. Dia tidak ingin disebut ‘norak’. Karena potensinya, guru tetap menunjuknya untuk sejumlah tuas. Meskipun kelihatan tidak sangat ‘lepas’, akhirnya dia mau menerima tugas demi tugas yang prestisius dari sekolahnya.

Sikap-sikap demikian terasa aneh: seseorang merasa rendah diri justru oleh kelebihannya. Memiliki tinggi badan bak model, menjadi pemimpin, menonjol dalam bidang studi di kelas, tidak disyukuri karena tidak ingin berbeda, ingin sama saja dengan yang lain.

Pelopor atau inovator biasanya adalah orang yang kesepian karena melangkah hanya sendirian. Mereka suka ditertawakan karena dianggap aneh sendiri. Bahkan, seorang John F. Kennedy masih dianggap aneh ketika mengatakan bahwa rakyat Amerika akan menginjakkan kaki di bulan. Atau, Martin Luther King Jr. dianggap bermimpi ketika mendorong persamaan hak orang kulit hitam dan kulit putih; atau Galileo Galilei malah dianggap musuh ketika mendorong teori heliosentris, matahari sebagai pusat tata surya.
Sampai saat ini pun, seorang berprestasi bisa melewati jalan sunyi. Misalnya, dianggap aneh karena sangat tekun belajar, sangat disiplin dengan waktu, membatasi diri dalam penggunaan media sosial atau memegang nilai-nilai moral yang baik. Karena itu, ada istilah ‘sok alim’, ‘sok suci’. Tapi, itulah jalan sunyi demi prestasi, demi sebuah kepeloporan atau inovasi.

Terkait nilai, upaya mencari kebenaran, situasinya hampir sama saja: orang dianggap aneh karena ketat dalam nilai. Namun, waktu membuktikan bahwa merekalah pemilik kebenaran itu. Sokrates yang pada jamannya dihukum mati, justru dipuja-puja sampai saat ini.

Perintis agama besar juga dianggap aneh, ditertawakan bahkan dimusuhi pada jamannya. Namun, waktu membuktikan bahwa mereka menawarkan nilai-nilai yang masih dipegang sampai saat ini. Sidharta Gautama, Yesus, Muhamad menjadi contoh bagaimana mereka dimusuhi pada jamannya, namun kemudian ajaran mereka dijadikan acuan.

Menjadi pelopor akan melewati jalan sunyi. Bertahanlah karena Anda sedang merintis keberhasilan.

Dari Ferry Doringin, PhD ut PSI Community

Share Button
http://publicspeaking.co.id/wp-content/uploads/2016/09/Cowboy_silhouette.jpghttp://publicspeaking.co.id/wp-content/uploads/2016/09/Cowboy_silhouette-300x300.jpgadminGeneral CommunicationIntrapersonal CommunicationSeorang anak SMA merasa tidak nyaman dengan postur tubuhnya yang tinggi menonjol di antara teman-temannya. Dia merasa lain, berbeda dengan seisi kelas. Hal itu mendatangkan rasa rendah diri. Karena perasaan itu, dia cenderung membungkuk. Anak yang lain cenderung diam. Di kelas, dia tidak mau menjawab bila guru bertanya meskipun dia...website pembelajar public speaking indonesia