nervousSaat break seminar, saya tergesa-gesa berjalan keluar ruangan menuju toilet. Sudah kebelet untuk buang air kecil. Tetapi sampai di lorong sisi ruang pertemuan, ada tiga orang perempuan muda cantik enerjik berdiri berjajar seakan hendak menghalangi saya. Terpaksa saya berhenti. Mereka adalah para fasilitator dari NGO asing di Jakarta yang menjadi peserta seminar.

Salah satu dari mereka bertanya, “Pak Frans, tanya dikit dong. Saya tiap kali mau tampil di depan banyak orang, saya tuh masih selalu nervous Pak. Deg-degan banget sampai detak jantung kayaknya kedengeran keras. Ini temen-temen saya juga Pak.” Ujarnya.

“Tapi Pak,” Belum saya berkomentar temannya menyambung, “Cuma satu ampe tiga menit pertama aja kok. Jadi wajar kan ya Pak?”

“Lha, kalian sendiri merasa terganggu nggak dengan perasaan itu?” tanya saya.

“Hmm… terganggu juga sih.” Perempuan kedua menjawab. “Soalnya tangan saya jadi dingin, kadang agak keringetan. Malu kalo harus jabat tangan sama peserta…”

“Artinya wajar gak?” kejar saya sambil tersenyum.

“Hmmm, yaa… nggak wajar sih.” Nada menjawabnya terdengar masih keberatan untuk mengakui bahwa hal itu tidak wajar. “Tapi kan, banyak fasilitator senior bilang kalo nervous sebelum tampil itu malah bagus. Biar makin semangat katanya! Yes, yes, yess!!” Yang pertama berkelit sambil tertawa.

“Begini… Coba ingat lagi, kamu pernah merasa takut dan deg-degan karena akan menerima marah besar bahkan caci-maki dari orangtua atau atasan kamu?” Mereka bertiga mengangguk sambil bertatap-tapan dan tertawa.

“Gimana rasanya? Membuat kamu semangat atau lemes? Bikin kamu berpikir jernih atau malah gak bisa mikir?” Tanya saya.

“Ya lemes lah Pak…” “Nggak bisa mikir, Pak!” Jawab mereka.

“Tapi tentu kalian pernah dong alami deg-degan jenis kedua ini, yaitu deg-degan karena akan maju menerima hadiah atau penghargaan bergengsi di kantor. Atau saat… Nah, kamu (saya menunjuk perempuan ketiga yang diam dari tadi), kamu sudah menikah kan ya?” Ia mengangguk. “Coba ingat lagi, ketika kamu akan memasuki ‘malam pertama’ di hari perkawinanmu, deg-degan nggak??”

“Hahaha…. Ya iya lah Pak. Pasti si eneng ini deg-degan banget atuuh!” Yang menjawab malah gadis yang pertama. Perempuan yang saya tanya hanya tertawa saja dengan wajah agak merona.

“Deg-degannya seneng atau takut? Hayo jujur…” kejar saya lagi.

“Seneng buanget dia Paak…” Jawab yang pertama lagi. Perempuan yang sudah menikah itu mencubit lengan temannya dengan gemas.

“Nah, kalau deg-degan yang kalian alami saat menjelang tampil sama persis dengan deg-degan jenis kedua ini, artinya deg-degan kalian sudah baik dan konstruktif!” sambung saya sambil tersenyum lebar.

“Tapi kalau yang kalian alami adalah deg-degan jenis pertama, jangan pernah katakan bahwa kondisi itu wajar. Buktinya, perasaan itu merusak fokus pikiran dan stamina kalian kan? Betul? Jadi kalian masih perlu benahi 4 pilar yang saya jelaskan di sesi awal tadi, OK?”

“OK Pak!” Sahut mereka bertiga sambil tertawa-tawa. Mereka bergoyang-goyang seperti mau menari. “Jadi, nervous yang kita alami emang masih nggak wajar ya Pak. Harus belajar lagi doong…”

“Belajar nggak ada habisnya kok. Sampai sekarang saya juga masih terus belajar…” sahut saya. “Permisi ya nona-nona cantik… Saya tinggal dulu yaa…” Saya minta jalan sambil bercanda.

Spontan mereka membuka jalan sambil bertanya dengan nada manja, “Mau kemana Paak? Boleh ikut?”

Salam komunikasi cemerlang,
FB

Share Button
adminNervous & ConfidenceSaat break seminar, saya tergesa-gesa berjalan keluar ruangan menuju toilet. Sudah kebelet untuk buang air kecil. Tetapi sampai di lorong sisi ruang pertemuan, ada tiga orang perempuan muda cantik enerjik berdiri berjajar seakan hendak menghalangi saya. Terpaksa saya berhenti. Mereka adalah para fasilitator dari NGO asing di Jakarta yang...website pembelajar public speaking indonesia