Oleh: Ferry Doringin

Tingkat literasi mahasiswa S3 di Indonesia sama dengan anak SMA di Denmark. Itulah hasil penelitian OECD yang beberapa kali dipaparkan oleh seorang sahabat, praktisi pendidikan abad 21, Indra Kharismiadji.

budaya-baca

Artinya, kemampuan memahami teks orang Indonesia sangat lemah. Meskipun program melek huruf yang dilaksanakan sejak jaman Presiden Soeharto dianggap begitu berhasil, ternyata tingkat literasi itu bukan sekedar bisa baca, bisa tulis, bisa berhitung. Lebih penting dari itu, apakah teks yang dibaca, bisa dipahami dengan baik? Jawabannya: tingkat pemahaman itu masih sangat perlu dibenahi.

Kelemahan itu, begitu nyata ketika orang sulit membuat paper, sulit menghasilkan riset yang baik, sulit merangkai analisis. Bahkan, dalam tingkat yang lebih rendah lagi, orang tidak mau membaca peraturan, orang sulit mengikuti prosedur karena tidak mamahami atau kurang berusaha memahaminya. Ada kolom FAQ untuk sebuah informasi penting tetapi orang tidak membacanya. Resep tertulis sulit dipahaminya. Sudah ada jawaban dan keterangan tertulis, tapi orang masih bertanya. Dengan itu calistung (baca, tulis, dan berhitung) ternyata tidak cukup.

Seorang sahabat mengatakan bahwa kuncinya adalah ‘minat baca’, ‘rasa ingin tahu’, dan ‘kebiasaan serta konsistensi dalam membaca’. Minat baca yang kuat disertai rasa ingin tahu yang besar mendorong orang untuk tidak sekedar membaca. Setiap informasi yang datang berusaha dipahami dengan benar dan lengkap. Karena itu, cukup dengan tanda-tanda tertentu, bagaikan tanda lalu lintas atau resep, orang bisa memahami dan melaksanakan sesuatu yang diharapkan untuk dilakukan.

Rasa ingin tahu dan minat baca yang besar merupakan buah dari kebiasaan dan konsistensi dalam membaca. Kebiasaan dan konsistensi dalam membaca membangun sikap untuk memahami dengan baik setiap teks yang dibaca. Ternyata, kebiasaan dan konsistensi dalam membaca memang masih kurang dipraktekkan. Buktinya, sangat sedikit orang yang membeli dan membaca koran bermutu, bahkan guru sekalipun. Seorang rekan guru mengatakan bahwa sangat sedikit guru yang berlangganan koran ‘Kompas’ yang berisi informasi dan pengetahuan yang baik sekali; padahal, koran itu sudah memberikan diskon besar kepada guru.

Kebiasaan dan konsistensi membaca makin tergerus lagi ketika budaya visual mendominasi jagad informasi kita. Orang lebih suka menonton saja dan mendapatkan informasi dari situ. Bahkan, tontonan berat yang berisi analisa tidak begitu digandrungi diganti dengan budaya hiburan. Orang mau menonton hanya ketika media visual menghadirkan hiburan-hiburan yang dia minati.

Bila menilik sejarah perjuangan Indonesia, kemerdekaan itu dirancang dan digerakkan oleh orang-orang yang memiliki minat baca sangat tinggi. Rancangan kemerdekaan itu dimulai secara sistematis dan terstruktur ketika pena tajam van Deventer berhasil mendesak pemerintah Belanda untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia sebagai salah satu kebijakan politik etis. Selain membangun sekolah, sejumlah orang memperoleh kesempatan bersekolah di luar negeri. Meskipun, ada yang mengatakan bahwa orang-orang potensial itu diasingkan dan dibungkam dengan cara dikirim bersekolah ke luar Indonesia, namun dari situlah, pergerakan besar dimulai secara terstruktur dan sistematis. Orang-orang yang bersekolah baik di luar maupun di dalam negeri, berusaha membangun jejaring, membangun organisasi-organisasi.

Mereka memperoleh akses literatur yang sangat luas. Mereka juga dibukakan wawasan-wawasan besar yang mendorong lahirnya gagasan-gagasan besar. Soekarno dan Hatta termasuk intelektual yang begitu cinta baca.

Perlu strategi khusus untuk menanamkan kebiasaan dan konsistensi dalam membaca. Tanamkan budaya baca sejak dini dan jadikan itu bekal kuat untuk anak-anak masa depan kita. Dengan itu, meskipun budaya visual yang menampilkan hiburan yang begitu kuat, orang tidak segera meninggalkan budaya baca. Dia tetap haus menggali informasi dari bacaan karena sejak dini, kebiasaan dan konsistensi itu telah tertanam padanya.*

Share Button
AdminPublic SpeakingOleh: Ferry Doringin Tingkat literasi mahasiswa S3 di Indonesia sama dengan anak SMA di Denmark. Itulah hasil penelitian OECD yang beberapa kali dipaparkan oleh seorang sahabat, praktisi pendidikan abad 21, Indra Kharismiadji. Artinya, kemampuan memahami teks orang Indonesia sangat lemah. Meskipun program melek huruf yang dilaksanakan sejak jaman Presiden Soeharto dianggap...website pembelajar public speaking indonesia