1. Atur napas

Respons “fight or flight” adalah respons yang tidak bisa dikendalikan (persarafan simpatis – autonom). Sebagai informasi: lawan dari persarafan simpatis adalah persarafan parasimpatis (ini merupakan persarafan autonom juga sehingga tidak dikendalikan secara sadar).

Ketika persarafan parasimpatis yang teraktivasi, maka kita justru menjadi relaks dan santai. Detak jantung melambat, tekanan darah turun, napas menjadi lambat, dan ketegangan di tubuh berkurang.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita bisa mengendalikan respons yang “tidak bisa dikendalikan” tersebut? Jawabannya: BISA.

Sangat mungkin sebelum saya membahas hal ini Anda tidak sadar kalau sedang bernapas. Nafas yang Anda lakukan terjadi begitu natural dan tidak perlu dikendalikan. Namun sekarang, setelah saya bahas, mungkin Anda mulai sadari pernapasan Anda.

Ternyata pernapasan bisa dikendalikan, bisa dipercepat, bisa perlambat. Nah, memang pernapasan kita dikendalikan oleh 2 jenis persarafan, persarafan autonom (tidak disadari) dan persarafan somatik (bisa dikendalikan dan disadari). Faktanya adalah ketika manusia menghembuskan napas, detak jantung manusia melambat, karena refleks vagal yang terangsang. Jadi ketika Anda ingin jadi relaks, maka fokuslah pada menghembuskan napas, dan atur nafas agar durasinya menjadi lebih panjang dibandingkan saat menghirup udara. Misalnya dengan hitungan 2 detik Anda menarik napas dan 5 detik menghembuskan napas. Ketika detak jantung berkurang, tubuh mempersepsikan Anda sedang relaks.

  1. Visualisasi tempat favorit

Tentunya kita mempunyai tempat favorit. Ketika Anda berada di Anda berada di tempat itu Anda merasa nyaman dan tenang. Dengan teknik melakukan visualisasi berada di tempat favorit, Anda bisa kembali merasakan perasaan nyaman dan tenang tersebut.

Dalam memilih tempat favorit, ada orang yang memilih pantai, gunung, rumah ibadah, bahkan tempat tidur. Semakin sering berlatih visualiasi ini, maka efek menenangkannya akan semakin baik.

  1. Humor

Ini merupakan salah satu teknik favorit saya. Humor akan membuat Anda menjadi jauh lebih relaks dari sebelumnya. Anda bisa mencari hal-hal unik, lalu membuat humornya. Misalnya ketika tangan Anda gemetar karena takut. Anda bisa mengatakan pada diri Anda sendiri sendiri demikian, “Ih, tangan saya lucu ya, kok bisa bergetar sendiri.”

Saya tidak menyarankan Anda mengatakan humor tentang tangan Anda yang gemetar ini pada audiens Anda. Karena jika Anda katakan maka kredibilitas Anda bisa jatuh. Jika Anda ingin menyampaikan lelucon atau humor pada audiens Anda, maka Anda bisa gunakan yang lebih umum. Dengan humor, otak Anda akan mempersepsikan bawa Anda sedang tidak dalam bahaya. Akibatnya respons “fight or flight” dalam diri Anda akan berkurang dan membuat Anda bisa menyampaikan materi dengan baik, tanpa “ngeblank”, gemetar, atau takut.

 

Para Public Speaker, tentunya Anda juga tahu bahwa mengatasi gugup dan takut saat public speaking sangatlah penting. Berapapun persiapan yang sudah Anda lakukan, jika saat menyampaikannya Anda gugup atau panik, maka semuanya akan sia-sia.

Oleh: dr. Christian

Share Button