fb001Sahabat, anda kiranya pernah mendengar petuah dari para motivator bahwa kondisi pikiran sangat kuat mempengaruhi kondisi tubuh. Ketika pikiran dipenuhi oleh berbagai kecemasan dan ketakutan, maka tubuh pun ikut menjadi gelisah dan stres. Wujudnya antara lain melalui wajah yang tegang, tangan gemetar, jantung berdegup tak beraturan, kulit berkeringat dingin, dsb. Sebaliknya ketika pikiran sedang fokus, tenang dan penuh optimisme, maka tubuh pun menjadi rileks, segar dan wajah tersungging senyum. Ini adalah bukti bahwa pikiran sangat mempengaruhi tubuh.

Namun sebaliknya, apakah Anda juga sudah tahu bahwa tubuh ternyata dapat mempengaruhi pikiran? Jika belum tahu dan belum yakin dengan statement ini, coba lakukan gestur ini: berdirilah tegak, kedua kaki jejakkan kokoh dengan jarak lebih lebar dari bahu, sekitar 50-70cm. Lalu dada membusung, kepala menengadah ke atas, nafas dalam-dalam dan penuh. Ekspresikan wajah Anda dengan tersenyum paling ceria. Buka mata lebar-lebar, lalu tangan terentang ke langit dengan penuh tenaga seperti gaya atlet yang merayakan kemenangannya. Nah, pertahankan gestur ini kemudian cobalah Anda membayangkan pengalaman sedih Anda yang amat sangat sedih. Bahkan tuturkanlah!

Saya yakin Anda akan menjadi bingung. Anda bercerita tentang kesedihan tapi Anda tidak bisa merasakan kesedihan. Mengapa? Karena gestur tubuh Anda adalah gestur orang optimis, gembira, bangga bahkan bahagia. Karena itu pikiran Anda menjadi sulit untuk mengakses emosi sedih. Inilah bukti bahwa gestur tubuh dapat mempengaruhi emosi atau suasana hati.

Sahabat, masih menyambung topik artikel tentang gestur, dalam konteks kerja sadar atau tidak, gestur kita berperan banyak dalam mempengaruhi semangat, produktivitas bahkan kesuksesan kerja kita. Berikut ini saya sharingkan bagaimana cara agar kita dapat optimalkan gestur untuk meningkatkan produktivitas dan kesuksesan kerja kita.

1. Ketika Anda tengah memikirkan suatu masalah, sandarkan tubuh Anda dengan rileks pada kursi atau sofa, kemudian letakkan kedua telapak tangan di belakang kepala dengan lengan dan sikut terentang di kiri kanan kepala Anda. Dada Anda menjadi membusung lebar dan nafas Anda pun menjadi penuh. Oksigen dapat optimal diserap tubuh. Nikmati gestur ini. Sadari Anda menjadi lebih mudah dan jernih dalam berpikir.

2. Ketika menerima panggilan telepon, menjawab email, atau menulis memo yang membutuhkan otoritas dan wibawa Anda, entah Anda duduk ataupun berdiri, usahakan tubuh Anda tidak bersandar. Tegak, nafas diafragma, dan kedua kaki membuka lebih lebar dari biasanya. Sama sekali tidak boleh berdiri dengan kaki rapat. Gestur ini membangkitkan dalam diri Anda rasa percaya diri yang penuh. Kondisi ini mempengaruhi kualitas suara dan pilihan kata yang Anda tuturkan.

3. Ketika hendak memasuki diskusi atau negosiasi serius yang cukup menantang, entah Anda berdiri atau duduk, letakkan kedua tangan Anda secara lurus di meja atau kursi di depan Anda. Gestur ini akan meningkatkan ruang bagi tubuh Anda menjadi lebih besar. Anda pun menjadi tampak lebih mendominasi.

4. Ketika Anda mengalami kebuntuan dalam berpikir, berdiskusi atau bernegosiasi, cobalah sambil duduk ataupun berdiri Anda lakukan streching dengan cara kedua tangan dan kaki terentang seperti gaya atlet memenangkan perlombaan. Gestur ini akan membangkitkan semangat dan daya tahan bagi Anda, sekaligus Anda akan terlihat sebagai orang yang optimis dan tangguh di mata orang-orang yang hadir di sekitar Anda.

5. Ketika menyimak perkataan teman bicara, bentuklah gestur tubuh yang terbuka. Cirinya, kepala mengangguk-angguk kecil sebagai tanda memperhatikan dan mengerti. Dan jika Anda berdiri, juntaikan kedua tangan, tidak disilangkan di depan dada. Jika Anda duduk, biarkan setengah lengan Anda berada di atas meja, namun sikut tetap menggantung dan tidak terletak di atas meja. Hal ini agar ruang atau area tubuh Anda lebih besar atau luas, dan Anda tidak terkesan malas atau santai. Kemudian agar secara psikologis mengesankan keterbukaan, aturlah posisi tangan yang membuat telapak tangan dan lengan sisi dalam Anda terlihat oleh teman bicara. Selain mengesankan keterbukaan, penelitian yang dilakukan Alan & Barbara Pease menunjukkan bahwa gestur terbuka memudahkan kita menyerap informasi atau pelajaran.

6. Ketika Anda berbicara, gerakkan tangan secara natural dengan cukup tenaga dan kontrol. Hindari gerak-gerik tangan yang ‘nanggung’ dan kecil. Hindari juga gerakan tangan yang terlalu banyak dan cepat. Prinsipnya, cukup berikan satu gestur tangan untuk satu buah pesan. Selain menjadi lebih komunikatif, Anda pun tampak lebih berkharisma.

7. Apapun yang terjadi, tersenyumlah dari hati. Caranya bagaimana? Bukan dengan memasang ekspresi senyum pada wajah, melainkan dengan terlebih dahulu mengimajinasikan pengalaman atau khayalan gembira di dalam benak Anda. Jika saat itu Anda tengah menghadapi tantangan kerja, mulailah dengan gestur tubuh yang bersemangat dan gunakan ‘framing positif’ terhadap tantangan yang Anda hadapi. Tambahkan dengan senyum yang tulus, maka pikiran Anda menjadi lebih optimal dan kreatif untuk mencari solusi atas masalah Anda. Serentak Anda pun tidak terjebak pada kondisi stress. Karena stres hanya membuat hormon kortisol menyembur di dalam tubuh Anda, lalu salah satu efeknya adalah kemampuan berpikir jernih menjadi tereduksi! So, tersenyumlah. Orang lain akan ketularan untuk tersenyum, suasana pun menjadi lebih nyaman.

Salam komunikasi cemerlang,
FB

(inspirasi artikel ini dari www.inc.com/murray-newlands)

Share Button
adminBody LanguageInterpersonal CommunicationSahabat, anda kiranya pernah mendengar petuah dari para motivator bahwa kondisi pikiran sangat kuat mempengaruhi kondisi tubuh. Ketika pikiran dipenuhi oleh berbagai kecemasan dan ketakutan, maka tubuh pun ikut menjadi gelisah dan stres. Wujudnya antara lain melalui wajah yang tegang, tangan gemetar, jantung berdegup tak beraturan, kulit berkeringat dingin,...website pembelajar public speaking indonesia